Contoh Soal dan Jawaban UAS Mata Kuliah Aplikasi dan Pengembangan Biopestisida

Assalmulaykum semuanya ?

Kali ini kita akan mencoba untuk latihan soal dari mata kuliah Aplikasi dan Pengembangan Biopestisida nih. Kalian yang mau UAS bisa coba dulu ya latihan ini, siapa tahu ada soal yang hampir mirip lah nanti, so check it out !




1. Berikan contoh biopestisida dari jasad renik patogen : (Bobot : 20)

a.   Jamur

b.   Virus

c.   Bakteri

d.   Nematoda

(dan jelaskan contoh-contoh tersebut secara lengkap !)

2. Jelaskan teknik yang dilakukan pada pengendalian hayati dengan mengguna predator dan parasitoid. Dan apa tujuan introduksi parasit/parasitoid dari luar daerah ? (Bobot : 20)

3. Bagaimana karakter-karakter musuh alami yang baik ? (Bobot : 20)

4. Buat ringkasan salah satu jurnal penelitian tentang aplikasi dan pengembangan biopestisida menggunakan mikroorganisme atau musuh alami (predator/parasotoid) ! (Bobot : 40)

 

Jawaban :

1.      a. Jamur : Biopestisida dari mikroorganisme jamur Beauveria sp. dan Metarrhizium sp. Biiopestisida dari jamur ini dapat digunakan untuk menyerang hama dari berbagai ordo seperti homoptera (wereng, kutu loncat, kutu kebul, aphis), hemiptera (walang sangit), coleoptera (kumbang moncong, kepinding tanah, kumbang kelapa, uret), lepidoptera (ulat, hama putih, penggerek batang padi, penggerek buah kakao), orthoptera (belalang, jangkrik, orong-orong) dan isoptera (rayap).

b. Virus : Biopestisida dari NPV (Nuclear Polyhidrosis Virus) :yang dapa digunakan untuk mengendalikan hama dari ordo Lepidoptera seperti ulat, hama putih, penggerek batang padi, penggerek buah kakao.

c. Bakteri : Biopestisida dari B. thuringiensis (BT) untuk mengendalikan berbagai jenis hama seperti ulat. Cara kerjanya adalah dengan merusak sistem percernaan hama. Hama yang memakan biopestisida dari BT ini akan mengalami gangguan pencernaan hingga akhirnya mati

d. Nematoda : Biopestisida dari Steinernema dan Heterorhabditis, nematoda ini membunuh hama serangga karena berperan sebagai endoparasit, khususnya pada dinding usus, tubulus malphigi, ovarium dan hemocoel. Nematoda ini dapat dijumpai secara alami di tanah dengan membawa bakteri simbionnya dan merupakan patogen yang dapat menyebabkan kematian pada berbagai serangga hama. Steinernema masuk ke dalam tubuh serangga melalui integumen, spirakel, anus, dan mulut.

2.      Caranya adalah mengidentifikasi musuh alami yang mengatur populasi hama pada lokasi aslinya, kemudian diintroduksikan ke dalam suatu daerah yang baru untuk mengendalikan hama, lalu musuh alami tersebut akan reasosiasi dengan mangsa/inangnya. Harapan dari musuh alami yang diintroduksikan yaitu agar menjadi stabil di lapangan, dan secara permanent mengurangi populasi serangga hama, sehingga berada di bawah ambang ekonomi. Adapun tujuan introduksi dari luar daerah adalah agar musuh alami yang terdapat di daerah setempat tidak mempunyai kemampuan  kuat untuk mengendalikan hama,-untuk menekan populasi hama secara sementara atau jangka waktu panjang, untuk mengisi kekosongan niche/relung pada sistem kehidupan hama,  terutama terhadap hama pendatang. Biasanya hama pendatang akan berkembangbiak dengan cepat karena tidak ada musuh alaminya.

3.   Adapun karakter musuh alami yang baik adalah memiliki spesifitas inang, memiliki kemampuan mencari yang tinggi, memiliki kecepatan bertambah yang tinggi, memiliki kemampuan untuk hidup dalam zona iklim yg luas, memiliki kemampuan untuk dapat diperbanyak secara artifisial dan memiliki kemampuan untuk membedakan inang yg cocok

4.      KEMELIMPAHAN DAN KERAGAMAN JENIS PARASITOID HAMA PENGGULUNG DAUN PISANG ERIONOTA THRAX L. DI KABUPATEN LAMPUNG SELATAN

METODE PENELITIAN

Tempat dan Waktu

Pada lokasi survei, dilakukan pengambilan sampel pada tiga kecamatan yaitu Kecamatan Natar, Jati Agung, dan Tanjung Bintang.

Pengambilan Sampel

Sampel berupa gulungan daun pisang terserang E. thrax diperoleh dari Kecamatan Natar, Jati Agung, dan Tanjung Bintang. Sampel yang diambil adalah gulungan daun pisang yang berisi hama E. thrax dari tiap desa sebanyak 20 sampel atau 60 sampel per kecamatan, sehingga keseluruhan sampel dalam survei ini berjumlah 180 sampel

Analisis Data

Data jenis dan jumlah parasitoid yang diperoleh digunakan untuk menganalisis indeks keanekaragaman Shannon (H’), indeks kemerataan (E), kemelimpahan, dan persentase parasitasi. Indeks Shannon dihitung dengan rumus sebagai berikut (Krebs, 1985):

H’ = ∑pi x ln pi

dengan: H’= indeks Shannon, pi = proporsi jenis parasitoid ke-i

Hasil dan Pembahasan

Kemelimpahan parasitoid yang ditemukan pada larva dan pupa E. thrax di Kecamatan Natar, Jati Agung, dan Tanjung Bintang (Lampung Selatan) pada 5 Januari - 25 Februari 2014 yang paling banyak adalah Brachymeria trachis

Kemelimpahan dan indeks keanekaragaman jenis parasitoid larva dan pupa E. thrax di Kecamatan Natar, Jati Agung, dan Tanjung Bintang memiliki nilai bervariatif dari tiap tempat, paling beragam dari Tanjun BIntang

Persentase parasitasi dari berbagai jenis parasitoid yang ditemukan pada larva dan pupa E. thrax di Kabupaten Lampung Selatan paling banyak dari tanjung bintang

Kesimpulan

Hasil penelitian menunjukkan di Kabupaten Lampung Selatan ditemukan 8 jenis parasitoid yang memarasit larva dan pupa E. thrax, parasitoid dari ordo Hymenoptera yaitu Chalcididae (Brachymeria lasus dan B. thracis), Ichneumonidae (Charops sp., Casinaria sp., Xanthopimpla sp.), dan Braconidae (Cotesia erionotae), parasitoid dari ordo Diptera yaitu famili Tachinidae dan Sarcophagidae. Kemelimpahan parasitoid tertinggi (171 ekor parasitoid) terdapat di Kecamatan Tanjung Bintang, dengan indeks keanekaragaman (H’) sebesar 1,0256 dan indeks kemerataan (E) sebesar 0,5724. Pada Kecamatan Natar kemelimpahan parasitoid lebih rendah yaitu 63 ekor parasitoid, namun nilai H’ lebih tinggi yaitu 1,4396 dengan nilai E sebesar 0,7398. Sedangkan di Kecamatan Jati Agung, kemelimpahan parasitoid yaitu 56 ekor, dengan nilai H’ sebesar 1,0120 dan nilai E sebesar 0,6064. Persentase parasitasi oleh berbagai jenis parasitoid terhadap larva dan pupa E. thrax tertinggi pada Kecamatan Tanjung Bintang mencapai 55,01%, sedangkan pada Kecamatan Natar sebesar 31,68% dan pada Kecamatan Jati Agung sebesar 33,34%.

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kuliah di Jurusan Pertanian, Mau jadi apa ? | Curhatan Mahasiswa Pertanian

Saya, Kuliah dan Bidikmisi

Peluang Bisnis Pertanian di Tahun 2020